Minggu, 26 Februari 2017

Menata Ikhlas Meraih Bahagia

Sahabat, setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang bahagia, menikmati hidup ini tanpa merasa terbebani oleh berbagai masalah. dan hal ini hanya akan dirasakan orang yang sungguh-sungguh berupaya ikhlas, menjaga setiap amalnya, baik amal ibadah maupun amal shalih dalam kehidupan bermasyarakatnya, hanya bagi Allah.
Tidak terbersit keinginan untuk dipuji, dihargai, dihormati makhluk. Ringan saja ketika melakukan sesuatu, yang penting baginya adalah ridaha dan berkah Allah. Ia tahu bahwa tugasnya di dunia ini hanya dua, pertama luruskan niat selalu, hanya demi meraih cinta Allah, lalu selanjutnya ia harus menyempurnakan ikhtiar agar hasil yang diharapkan betul-betul optimal, terbaik yang dapat dipersembahkannya.
Sehingga ia tidak perduli dengan penghargaan orang lain, ia tetap bersemangat beramal shalih, baginya yang terpenting, apa yang dilakukannya mendapat ridha Allah. Rezeki baginya adalah ketika ia mampu berbuat meluruskan niat dan beramal dengan amal terbaik.
Untuk mencapai tingkatan ikhlas tertinggi, yaitu meraih ridha Allah. Menurut Imam Ali RA, ada beberapa level ikhlas, antara lain; pertama, ikhlasnya seseorang untuk meraih kebahagiaan duniawi. Ketika berdoa pun, ia berharap keinginan duniawi semata. Walaupun ini tingkatan terendah, namun lebih baik karena ia hanya meminta hanya kepada Allah saja.
Lalu, kedua, ikhlasnya seorang pedagang, ia berusaha ikhlas namun dengan menghitung-hitung pahala terlebih dahulu. Jika suatu amal banyak mendatangkan pahala, pasti ia semngat mengerjakannya. Berharap amal tersebut dapat menghapuskan dosa serta menguntungkan duniawinya.
Ketiga, ikhlasnya seorang hamba sahaya, ia takut sekali dengan ancaman Allah, sehingga ia berusaha ikhlas dalam berbuat, hanya demi Allah agar Allah tidak murka kepadanya.
Keempat, ikhlasnya orang yang berharap surga, balasan baik bagi Allah, sehingga amal yang dikerjakannya betul-betul diperuntukkan sebagai bekal hidup diakhirat kelak, agar ia meraih surga; balasan tertinggi dari Allah.
Tingkat terakhir, kelima, ikhlas tingkat tertinggi, ia pasrah dengan ketentuan Allah. baginya ia berbuat terbaik hanya demi keridhaan dan berharap cinta Allah. Ia hanya berkehendak dapat berjumpa Allah kelak, selain itu terserah Allah, ia tidak begitu peduli dengan balasan Allah. Cukup baginya cinta dan persuaan dengan Allah nanti. Subhanaallah, mudah-mudahan suatu saat kita kita dapat meraih tingkatan ikhlas tertinggi ini. Amiin.
Untuk menjadi seorang yang ikhlas pasti memerlukan latihan (riyadhah), berat memang pada awalnya, namun jika sungguh-sungguh berupaya, pasti akan berbuah keikhlasan yang tiada bandingnya dengan kehidupan dunia ini.
Cobalah mulai berusaha melupakan setiap amal yang kita lakukan, seakan-akan kita tidak pernah melakukannya. Dan jangan membeda-bedakan amal besar atau amal kecil, semua amal sama saja, upayakan berbuat terbaik dalam amal apapun juga.
Lupakan pula penghargaan dan celaan orang lain, upayakan bersikap biasa-biasa saja dengan semua yang kita lakukan. serta jangan berharap balasan berbentuk pujian, materi atau penghargaan dari orang lain, bisa jadi balasan amal itu berupa pahala atau ridha Allah, bukankah hal itu lebih baik.

Marilah kita senantiasa menata keikhlasan hati, dengan mulai mencoba berlatih dalam setiap kesempatan amal. Dengan begitu, mudah-mudahan suatu saat bahagia teraih, dunia akhirat. Aamiin.

Sentuhan Akhlak dalam Peradaban Islam


Sentuhan Akhlak dan Peradaban Islam

Akhlak dalam Peradaban Islam merupakan pagar yang membatasi sekaligus pondasi yang mendasari kejayaan Islam. Akhlak masuk dalam setiap aturan kehidupan beserta berbagai macam variasi dan perkembangannya, baik secara individu maupuan masyarakat, dan politik maupun ekonomi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam diutus untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana  sabda beliau: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Hakim)”. Dalam kerangka inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam diutus. Beliau ingin menyempurnakan budi pekerti mulia dalam jiwa umatnya dan seluruh manusia. Beliau menghendaki seluruh manusia supaya bermuamalah dengan akhlak baik, tidak dengan aturan yang lain.
Dalam hukum, ilmu, undang-undang, peperangan, perdamaian, ekonomi, keluarga, telah diterapkan dasar-dasar akhlak dalam peradapan Islam secara teori dan praktik yang belum pernah dicapai oleh peradaban manapun, baik peradaban zaman dulu maupun sekarang. Peradaban Islam telah meninggakan jejak yang sangat menakjubkan dan menjadikannya sebagai satu-satunya peradapan yang menjamin kebahagiaan manusia dengan kebahagian murni, tidak dicemari racun kebinasaan. [Mushthafa As-Sibai, Min Rawâi` Hadhâratinâ, hal. 37]
Sumber akhlak dalam peradapan Islam adalah wahyu. Ia merupakan nilai-nilai teguh dan teladan tinggi yang memperbaiki setiap manusia dengan memperhatikan jenis, zaman, tempat, dan lain-lain. Hal itu berbeda dengan sumber akhlak yang hanya sebatas teori manusia, yang menghandalkan akal yang terbata, atau menghandalkan hal yang sesuai dengan manusia dalam suatu masyarakat yang disebut dengan `urf (kebiasaan yang berlaku). Kebiasaan ini akan selalu berubah dan berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain, dari satu pemikiran menuju pemikiran lain.
Sumber niscaya dalam akhlak Islam adalah hadirnya perasaan manusia terhadap pengawasan Allah Subhaanahu wata’ala. Sedangkan akhlak yang berdasarkan pandangan manusia hanyalah sesuatu yang samar, atau berdasarkan panca indra, atau undang-undang yang diwajibkan. Sentuhan akhlak ini menyebabkan terwujudnya rasa aman yang menjamin kesinambungan peradaban yang langgeng, dan dalam waktu yang bersamaan ia juga mencegah penyimpangan.
Keunggulan akhlak peradapan Islam adalah sisi perbaikan kemanusiaannya. Sebab, manusia berwatak keras di sudut dalamnya. Ia diperintah untuk mensucikan demi menjamin pemeliharaan kemuliaan dan kemashlahatan manusia. Ia juga dibebani sebagai khalifah untuk membangun kehidupan dan menciptakan peradapan. Tentang kemuliaan dan kelebihan manusia ini, dalam Al-Qur’an dinyatakan:

وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَـٰهُمۡ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلۡنَـٰهُمۡ عَلَىٰ ڪَثِيرٍ۬ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلاً۬ (٧٠)
Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al-Isrâ'[17]: 70)
Dengan segala kekhususannya, peradapan Islam mempunyai keistimewaan esensial berupa peradaban yang universal. Ia ditegakkan atas dasar pengesaan ibadah secara mutlak kepada Allah Ta’ala, Tuhan semesata alam. Ia membawa sifat keseimbangan dan pertengahan, sebagaimana juga membawa sentuhan akhlak yang bernilai. Semua itu menunjukkan bahwa peradapan Islam bukanlah peradapan sempit, peradaban komponen masyarakat tertentu, dan tidak pula menentang fitrah kemanusiaan.
Inilah karakteristis Peradaban Islam yang tiada duanya dalam peradaban-peradaban dunia. Peradaban tersebut selaras dengan karakter abadi dan bersumber terus dari dasar-dasar Islam yang lurus. Ia memancar dari ketauhidan dan dilekati oleh bentuk menawan yang tidak dapat diganti dan diubah lagi. Jika kondisi berubah, maka Peradaban Islam mampu beradaptasi sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi, tanpa membuang dasar-dasarnya yang esensial.